Dahulu kala hiduplah seekor monyet yang suka memanjat kelapa di tepi pantai.
Lalu, suatu hari datanglah empat angin dari kejauhan.
Terjadilah percakapan di antara empat angin tersebut. Angin satu, sebut saja angin Bambang. Ia berkata "Hai para angin siapakah di antara kalian yang bisa menjatuhkan monyet tersebut?."
"Ah itu sih gampang buatku," Angin dua atau angin paijo menyahuti dengan percaya diri.
"Baiklah paijo. Jika kau bisa, jatuhkanlah monyet itu," Bambang mencoba mempersilahkan.
Paijo pun mulai menghembuskan angin yang kencang. Daun-daun bahkan mulai berterbangan.
Lalu di lihatnya lagi pohon kelapa itu. Namun monyet itu masih berada di atas pohon. Monyet itu berpegangan dengan pelepah dan pohon kelapa.
Paijo mencoba menghempaskan angin beberapa kali namun hasilnya tetap sama.
Angin tiga pun angkat bicara "Aku adalah angin mukidin, aku telah banyak menerbangkang atap-atap rumah orang. Serahkan saja padaku."
Dicobalah mukidin menghembuskan angin yang begitu kuat. Lebih kuat dari angin paijo. Namun monyet itu semakin kuat pula berpegangan dengan pohon kelapa.
Dicobanya beberapa kali namun sama halnya dengan paijo, mukidin pun gagal.
"Hahaha, sudah kuduga kalian tak akan mampu,"
Tibalah angin Bambang untuk unjuk kebolehan. "Aku adalah angin yang begitu kuat, yang apabila seseorang melihatku ia akan bersembunyi ketakutan," Angin Bambang berucap dengan sombongnya.
Angin bambang menghempaskan angin yang sangat kencang beberapa kali sekaligus. Sampai-sampai debu berterbangan hingga menghalangi pandangan. Angin yang lebih kencang daripada angin-angin sebelumnya.
Setelah angin itu berhenti, dilihatnya lah pohon kelapa itu. Akan tetapi monyet itu masih berada di atas pohon. 'Iya'. Monyet itupun tak mau kalah semakin terbiasa dengan hempasan angin. Semakin kuat pula ia berpegang teguh
Semua tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Akhirnya semua mata tertuju pada angin empat. Tinggal ia sendirilah yang belum memperlihatkan kehebatannya. "Hai painem, kenapa sedari tadi kau hanya diam saja," ujar paijo.
"Iya. semua angin telah mencoba painem, tinggal engkau saja yang belum," Bambang ikut menyahuti.
Painem pun menjawab dengan sangat lemah lembut "Aku adalah angin sepoi sepoi, yang berhembus dengan lembut. Bagaimana bisa aku bersaing dengan kalian," jawab painem dengan rendah hati.
"Kenapa tidak engkau coba dulu?," Angin mukidin pun ikut bicara.
"Baiklah jika itu mau kalian." Akhirnya painem menghembuskan anginnya sekali, "wuuss," angin painem mengenai badan monyet. Terlihat monyet itu merasa sangat nyaman.
"Wuuss," Painem menghembuskan angin kedua. Monyet itupun mulai terlena melepas pegangannya. Monyet itu menguap, terlihat kantuk dimatanya. Lalu di hembuskannya sekali lagi "wuuss," monyet itupun terlelap, hingga akhirnya terjatuh.
Akhirnya semua berdecak kagum dengan painem. "Kau hebat sekali painem," ujar mereka.
.
.
Pesan moral:
Terkadang manusia hidup layaknya monyet dalam cerita tersebut. Ketika ujian, cobaan, rasa sakit, keterbatasan, kegagalan datang menerpa, kita masih tetap sanggup berdiri, terus berjuang, walau dengan susah payah. Semakin erat pula berpegang teguh dengan Agama Allah. Akan tetapi, ketika kita di uji dengan kenikmatan dan kesenangan dunia?. Kita justru kufur, ingkar, merasa kurang, terlena hingga terjerumus di lembah kesesatan.
Maka beruntung bagi mereka yang hidupnya selalu di dera cobaan, akan tetapi tidak membuatnya jauh dari agama Allah. Justru semakin dekat, semakin erat berpegang teguh dengan tali tali kebajikan. Setiap rasa sakit dijalanNYA, Allah gugurkan dosa-dosanya.
Setiap tetes keringat dan air mata, Allah buatkan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya mata air di dalam surgaNYA. Dan setiap kesabaran dan keimanan yang selalu ia bangun. Allah bangunkan istana yang begitu megah dan kokoh. Sungguh tak akan menyesal. Jangan mengeluh dan jangan rendah diri apalagi ingkar dengan nikmat Allah. Selalu jalani dengan sabar dengan berprasangka baik atas takdir yang Allah buat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar