Kamis, 27 April 2017
Aku tidak percaya, lagi.
[Mas, aku akan menikah,] Sebuah pesan masuk menderingkan ponselku, membuatku terperanjat, sontak. Dari kasur kecil didekat almari tua kamarku.
Mata ini mencoba menyusuri sudut kiri atas layar, dan disana kutemukan namamu. Sejenak jantungku terhenyut, cepat. Aku bisa merasakan detaknya kala itu.
[Kapan Ra?,] Segera aku membalasnya.
[Bulan depan mas.]
[Secepat itu?]
[Iya mas, mas datang ya?.] Belum selesai perasaan berkecambuk ini terhenti, lagi. kau memberikan permintaan yg cukup nyelekit dihati.
[Hehee liat saja nanti. Mas gak bisa janji ya.]
[Aiis mas. Aku tunggu pokoknya, mas harus datang.] Aku tau kau kecewa dengan jawabanku. Tapi lebih dari pada itu akupun kecewa dengan pernyataanmu.
Aku sengaja tidak membalasnya lagi. Tidak peduli jika itu minyasakan tanda tanya di kepalamu.
##
Scan beralih dimasa lalu. Ombak menggulung memecah bibir pantai. Angin berhembus kencang, riuh gesekan dedaunan, juga gemercik air yg menabrak karang. Suara-suara itu beradu. Menyatu. Aku suka cara daun-daun berguguran. Aku suka cara pohon-pohon pinus itu bergoyang. Lebih tepatnya aku suka apa saja saat kau ada di sampingku. 'Tapi tidak'. Suasana pantai ini sungguh luar biasa, menyingkirkan penat dari kesibukan hari-hariku. Meski hanya sejenak.
"Aku tidak percaya dengan cinta selamanya," Aku mencoba memecah kebisuan. Hanya aku, kau dan keong di sudut lubang itu yg sedari tadi diam.
Kau menoleh, kaget. Wajahmu yg manyun itu dan lukiskan raut tanda tanya. Akupun suka.
"Kenapa mas?," Aku tau kekesalanmu, melalui suara yg sontak meninggi juga wajah berpalingmu itu.
"Aku hanya tidak percaya, Yang seperti itu butuh pembuktian yg cukup lama bukan?. Aku hanya tidak suka cara anak muda saat ini membohongi wanita. Termasuk juga membohongi dirinya sendiri."
"Tapi aku berbeda. Aku cinta kamu selamanya mas."
"Tetap saja aku tidak percaya." ku jawab singkat lalu menertawakanmu habis-habisan.
Kaupun ikut tertawa, tawa yg berbeda denganku. Rasa kesal itu terpaut jelas diwajahmu. Kau memang selalu ikut tertawa ketika aku menertawakanmu. Tawa yg diikuti kekesalan.
"Jangan suka melebih-lebihkan."
"Memang benar kok."
"Coba kau pikirkan lagi."
"Hmm."
"Apa kau marah Ra?"
"Gak."
"Hey. kamu boleh merubahku, sikapku, atau apapun. Tapi tidak dengan prinsip ku."
"Iya."
"Laki-laki itu hidup dengan prinsif Ra. Tak peduli jika seluruh dunia ini berubah. Ada sesuatu yg ia tak ingin dari dirinya berubah."
"Iya mas zahra ngerti kok. Ayo kita pulang. Sudah mau gelap mas."
Aku berdiri. Lalu menggenggam. Menarik tanganmu untuk berdiri.
"Ayok." Kau selalu menutupinya, lalu memendamnya. Perasaan kecewa itu. Ah dasar wanita.
Kita berjalan menyusuri bibir pantai. Motor kami parkir sekitar seratus meter dari sana. Sesekali aku mendorongmu mengenai air. Lalu kau membalasnya. Memukulku. Dan aku pura-pura kesakitan. Bermain layaknya anak kecil. Ah siluet senja memang selalu indah. Semburat abstrak jingga. Dan kontrasnya yang pas. Lukisan Tuhan Yang Maha Esa. Aku paling suka saat senja menjadi backgrondmu. Saat kau berdiri menghadap kearahku, sedang aku tidak tau ekspresimu terhadapku. Atau saat kau berlari-lari kecil, seakan kau tak pernah bisa lari dari setitik cahaya itu. Cahaya yg juga tak bisa lari dari kenyataan. Bahwa ia akan ditelan malam.
Aku bisa membohongimu atau bahkan membohongi dunia Ra. Tapi tidak dengan diri sendiri. Tentang detak jantung yg melaju lebih cepat dari biasanya. Tentang perasaan tenang yg lebih dari biasanya, atau bahkan lebih dari pada saat aku pertama datang di pantai yg menyejukan ini. Perasaan saat kau mengucapkan kalimat itu "Aku cinta kamu selamanya, mas." Sebenarnya aku tidak benar-benar mempercayainya. Tapi itu artinya kau memiliki perasaan yg tidak biasa. Setidaknya itulah yang kuyakini.
Aku telah melakukan kesalahan besar. Dengan membiarkan caraku melihat semua ini. Tidak. Aku tidak pernah menganggap kata-katamu sebagai kebohongan. Aku hanya terlalu bodoh menyangkal dan membiarkan diri ini mempercayai seseorang yg terlalu kekanak-kanakan untuk menyadari bahwa dirinya sendiri telah dibohongi oleh hatinya. Oleh perasaan yg melambung sesaat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar