Senin, 03 April 2017

Permasalahan Banjir Samarinda dari Perspektif Mahasiswa


Oleh : Abdul Wahab, Fakultas Pertanian Unmul
.
Alasan paling mendasar kenapa di samarinda mudah terjadi banjir adalah sederhana, Samarinda merupakan daerah yang trgolong rendah (berada pada ketinggian antara 0-200 dpl. 24,17% berada antara 0-7 dpl, sekitar 41,10% diketinggian 7-25 dpl, dan 32,47% antara 25-100 dpl) dan Struktur tanah di pulau Borneo yang memang kurang baik sebagai resapan air, serta intensitas hujan yang cukup tinggi. Akibatnya, tak butuh selang waktu lama hujan dapat dengan mudah membanjiri samarinda.
.
Kalimantan didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning (liat) yang kurang baik sebagai resapan air, pembangunan yang sedang gencar di lakukan ditempat-tempat yang sebagian besar dulunya sebagai resapan air dengan tanpa perhitungan tata ruang kota yang matang, penimbunan di rawa-rawa dan daerah rendah, pemangkasan gunung (dengan dipangkasnya gunung luas permukaan tanah menjadi semakin berkurang sehingga daerah resapan berkurang), pembukaan tambang di daerah hijau, serta mengikisnya Taman kota sebagai resapan air mengakibatkan air hujan tak mampu diserap sepenuhnya olah tanah sehingga air mengalir kedaerah mana saja yang lebih rendah. Akhirnya satu-satunya cara yang mampu dilakukan hanyalah mengalirkan air untuk dilimpahkan ke sungai .
.
Yang menjadi permasalah selanjutnya adalah bagaimana kualitas sungai, kapasitas air yang mampu di tampung sungai, serta media untuk menggiring air menuju sungai (selokan atau gorong-gorong). Seperti yang kita ketahui warga Samarinda sangat bergantung dengan Sungai Karang mumus yang merupakan sungai utama di Samarinda tak hanya sebagai penampung air hujan tapi juga menjadi tempat hidup, dan melakukan aktifitasnya sehari-hari. Akibatnya sungai mengalami penyempitan. Belum lagi masalah tentang kepedulian warga samarinda yang cukup rendah terhadap lingkungan. Banyak dijumpai baik warga samarinda maupun pendatang membuang sampah sembarangan terlebih lagi membuangnya di sungai yang dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai sehingga kapasitas penampungan sungai menurun, serta laju air sungai terhambat pemukiman warga. Tak hanya sungai selokan-selokan pun mengalami pendangkalan serta di penuhi oleh sampah. Selain itu tata letak kota yang semrawut juga menyebabkan kurang efisiennya dalam mengalirkan air ke sungai. Air hujan harus melewati jalur berkelok dan lintasan yang panjang serta berbenturan dengan aliran air dari arah lain. Imbasnya adalah daerah daerah yang lebih rendah harus pasrah tempatnya secara mendadak berubah fungsi menjadi media bagi air hujan yang tak tau arah untuk menuju ke sungai. Hal tersebut dikarenakan selokan tak mampu menampung keseluruhan air hujan.
.
Sudah amat sangat terlambat jika ingin memindahkan warga yang tinggal di belantaran Sungai Karang Mumus. Butuh dana yang sangat besar dan waktu yang tidak sedikit mulai dari pengadaan tempat baru, biaya oprasional, belum lagi tidak semua warga mau dipindahkan serta masalah-masalah lainya. Hal tersebut bisa saja dilakukan jika keadaan ekonomi samarinda melonjak tinggi. Tapi untuk saat ini paling tidak pemerintah bisa tegas agar masyarakat tidak membuat pemukiman-pemukiman baru di atas sungai.
.
Hal hal selanjutnya yang dapat di lakukan untuk mengatasi banjir ialah :
1. Pemeliharaan sungai, dan selokan, hal ini sudah sering dilakukan seperti pembersihan sungai dan paret. Pendalaman sungai, pembuatan dan pemeliharaan tanggul dan bendungan. Namun tetap saja sungai dan selokan mengalami penyempitan dan pendangkalan karena kepedulian warga yang masih minim yang suka membuang sampah sembarangan. Karenanya harus ada koordinasi lembaga-lembaga terkait untuk mengatur, menghimbau serta menetapkan peraturan agar masyarakat lebih peduli dengan lingkungan.
2. Penanganan sampah, sampah merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Penanganan sampah bisa di lakukan seperti membuang sampah pada tempatnya, pengadaan tempat sampah di tempat-tempat umum (Samarinda termasuk kota yang sangat jarang ada tempat sampah), penambahan penampungan sampah di tempat padat penduduk, pemisahan sampah organik dan anorganik yg dapat di daur ulang (Hal ini sangat di sepelekan masyarakat, padahal dengan memisahkan sampah anorganik seperti plastik dan kertas untuk di daur ulang kita bisa menghemat jutaan pohon selain itu sampah bisa langsung di jual. sampah organik pun bisa di kirim ke perusahaan pupuk organik untuk di jadikan pupuk organik), membuat penampungan sampah anti air hujan dll. Ada banyak cara untuk mengatasi permasalahan sampah, mungkin bisa di bahas satu bab di lain waktu.
3. Pembuatan lubang atau sumur resapan, seperti yang sudah mulai dilakukan kota-kota besar di Indonesia. Samarinda mungkin perlu menerapkanya. Tidak hanya daerah rendah yang rentan banjir tapi juga daerah-daerah dengan ketinggian sedang sampai tinggi agar air bisa di serap sepenuhnya sehingga tidak membebani daerah-daerah rentan banjir. Selain berguna sebagai tempat menampung air, tanah hasil galian juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal semisal manambah tinggi tempat sekitarnya. Mungkin terdengar sepele namun jika setengah samarinda saja menerapkan, hal ini sudah sangat meringankan beban sungai Karang mumus.
4. Merealisasikan program kaltim green secara serius, Semisal mencanangkan program satu rumah satu pohon, kemudian untuk daerah padat penduduk yang tak memungkinkan menanam pohon untuk dibuat taman hutan kota setiap satuan luas daerah. Misalkan setiap luasan 7 hektare untuk membuat taman hijau satu hektare. Taman disini sebagai resapan air hindari bahan dataran yg tak bisa menyerap air seperti semen dan aspal.
*No. 3 dan 4 juga bisa di terapkan wajib bagi perusahaan dan para pembisnis perumahan.
5. Perencanaan pengadaan infrastruktur yang matang dan memadai. Pembuatan dan penambahan sungai-sungai, selokan, dan bendungan. Untuk daerah yg sedang dalam fase pembangunan dan yang akan memasuki fase pembangunan untuk merencanakan pembuatan jalan, jembatan dan selokan yang memadai serta tata ruang yang baik secara optimal. Baik dari segi luas jalan, jalur yang lebih efisien, kapasitas selokan semuanya di siapkan sebelum terlambat dalam rangka untuk mengatasi banjir dan kemacetan tidak hanya yg terjadi saat ini namun juga di masa yang akan datang.
6. Menanamkan paham cinta lingkungan sejak dini, Penambahan mata pelajaran Dasar ekologi atau semacamnya tidak hanya di perguruan tinggi tapi juga mulai dari tingkat SD, SMP, maupun SMA.
7. Advertisment 'cintai lingkungan'. Hal ini seperti pengiklanan produk-produk di televisi, kita secara tidak sengaja berulang-ulang mendengarkan suatu iklan lama kelamaan kita akan penasaran dan tertarik . Semisal kita buat jargon "jangan buang sampah sembarangan" lalu diulang-ulang dengan seting semenarik mungkin. Selain di televisi juga bisa di muat dalam baleho di jalan-jalan strategis. Mengadakan lomba poster dan lain-lain dengan tema 'cinta lingkungan' selain sebagai bentuk himbauan dan ajakan hal ini sekaligus menjadi apresiasi tersendiri bagi masyarakat peduli lingkungan.
8. Membuat organisasi-organisasi peduli lingkungan. Mulai dari masyarakat, mahasiswa, pelajar atau bahkan ibu-ibu pkk sebagai wadah untuk mengumpulkan masyarakat. Karna untuk membenahi samarinda kita memerlukan SDM yang sangat banyak lebih tepatnya seluruh masyarakat samarinda. Oleh karna itu harus ada organisasi-organisasi yg konsisten dan berdiri di depan sebagai panutan
9. Penggunaan lantai paving. Mengurangi penggunaan semen atau aspal di jalanan gang padat penduduk, pelataran rumah, sekolah, trotoar atau tempat umum lainya dan beralih ke paving atau sejenisnya yang memiliki sela-sela untuk resapan air. Lantai paving memiliki sela-sela yang dapat menyerap air dengan baik, berbeda dengan semenisasi dan aspal yang daya serapnya sangat kecil.
10. Mempertegas hukum terhadap perusakan alam. Baik masyarakat maupun perusahaan, pemerintah harus tegas dan adil agar lingkungan tetap terjaga. Terutama perusahaan tambang.
.
Sebagai masyarakat mari kita tingkatkan kesadaran dan kepedulian kita.
Sekian dari saya, Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar